Selasa, 30 Juli 2013

MUSIK KOLINTANG

SEJARAH MUSIK KOLINTANG

Kolintang merupakan nama alat musik gong perunggu abad 17 di Sulawesi Utara, Sumatra dan Filipina Selatan yang tersebar melalui perdagangan antar pulau melalui jalur perdagangan sutra. Pusat perdagangan Internasional adalah Ternate dan Tidore sebagai penghasil rempah-rempah pala dan cengkih. Jalur perdagangan selatan dari pantai Timur India pelabuhan Cambaya, Sumatra Utara, Malaka, pantai Utara pulau Jawa lalu ke Ternate Tidore. Jalur perdagangan Utara dari India ke Malaka, Brunei, Filipina selatan, Sulawesi Utara, lalu ke Ternate dan Tidore.
Kolintang gong kemungkinan telah tiba di Minahasa melalui Ternate dari kerajaan Majapahit (1350-1389) yang armada pelayarannya sudah sampai dikepulauan Sangihe dan Talaud. Yang sudah tercatat dalam buku negara Kartagama ditulis : ”Uda Makat raya dinikanang sanusa pupul” (1*) mungkin juga dari Cina karena pulau Siauw telah tercatat dalam peta pelayaran Cina di buku ” Shun Feng Hsin Sung” ditulis oleh SHAO (2*) awal abad ke 15.
Tahun 1972 penulis membawa MOMONGAN ( Gong perunggu ) asal Tomohon di Minahasa yang retak, untuk diperbaiki di Yogyakarta, pengrajin Gong di Yogyakarta, mengatakan bahwa campuran timah dan tembaga gong tersebut menunjukkan ciri khas buatan kerajaan Belambangan dari Jawa Timur (Ditaklukkan Mataram pada tahun 1639).
Beberapa penulis bangsa barat yang menulis mengenai Minahasa awal abad ke 19 memberi data mengenai alat musik KOLINTANG Minahasa terbuat dari bahan logam dan bukan dari kayu. Penulis J. Hickson mencatat sebagai berikut (3*) ...the party next return to the house, the gong kolintang are sounded ( terjemahan bebas : …peserta pesta upacara kemudian kembali kerumah, dan gong kolintang lalu dibunyikan.) Selanjutnya penulis J. Hickson menceritakan mengenai Mapalus dan lebih menjelaskan bahwa kolintang itu gong (4*)
...Mapalus bieting Gongs / Kolintang (Terjemahan bebas : ...Pekerja Mapalus memukul Gong / Kolintang ). Nada – nada Kolintang Gong ditulis oleh N.Graafland dalam bentuk solmisasi, do – mi – sol – mi ... la – do – fa – si , ada gong besar dengan nada fa rendah (5*)
(1*) Bandar jalur sutra – dept. P&K – RI. Jakarta 1998. (Alex Ulaen, halaman 108)
(2*) Bandar Jalur Sutra – Dept. P&K – RI. Jakarta 1998. (Alex Ulaen, halaman 109)
(3*) Naturalist in North Celebes – London 1889 (J. Hickson, halaman 292)
(4*) Naturalist in North Celebes – London 1889 (J. Hickson, halaman 234)
(5*) De Minahasa, eerste deel – Batavia 1898 (N.Graafland, halaman 357)

Kolintang Gong masih dapat di temukan di Airmadidi bawah wilayah Tonsea milik Ny. Kilapong dan Ny. Doodoh yang hingga kini musik MAOLING digunakan mengiringi tari MAPURENGKEY pada upacara perkawinan (6*). Apabila kita kumpulkan nama instrumen alat musik Gong di wilayah Nusantara dan Filipina, yang mirip dengan kata KOLINTANG akan terlihat sebgai berikut :
KOLINTANG : Nama alat musik Gong di Minahasa.
GOLINTANG (GORINTANG) : Nama alat musik di Bolaang – Mongondouw.
KELINTANG : Nama alat musik Gong di Sumatra yang di jadikan perbandingan nama KOLINTANG oleh penulis N.Graafland sebagai berikut (8*): ...De KOLINTANG (Minahasa) op Sumatra heet zij KULINTANG (Terjemahan bebas : ...KOLINTANG (Minahasa) di Sumatra bernama KULINTANG.
KULINTANG : Nama alat musik Gong di Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatra (9*)
Dari nama-nama leluhur Minahasa jaman lampu seperti, Lintang, Lumintang, Lantang, Lintong, yang berhubungan dengan nama alat musik gong dan keterangan bunyi alat musik logam tersebut, TANG, TONG. Menunjukkan bahwa alat musik gong KOLINTANG itu sudah lama dikenal orang Minahasa, yang jaman tempo dulu punya nilai yang tinggi dimasyarakat dan hanya pemimpin masyarakat yang memiliknya yakni dari golongan TONAAS dan WAILAN. Dapat diambil kesimpulan bahwa leluhur (Opo’) yang mengambil nama dari alat musik Gong ini memiliki status sosial yang tinggi dimasyarakat.
Satu buah alat musik Gong dinamakan ”Momongan”, satu deretan momongan disebut KOLINTANG terdiri dari lima Gong (Penthatonis), Gong besar disebut ”Antung” atau ”Rambi”. Orkes musik MAOLING terdiri dari : Kolintang (Melodi), Momongan, Antung (Bass), Suling dan Tambor (Letek).
Ceritra rakyat Minahasa mengenal Dewa alat musik ketuk Xylophone dari kayu (kolintang kayu ) bernama TINGKULENGDENG yang mengetuk-ngetuk bilah kayu (10*) satu masa hidup dengan dewa MUNTU-UNTU abad ke tujuh (11*)
(6*) Hasil survey Koleksi Museum daerah Kebudayaan Minahasa. Kanwil.P&K.1982.Halaman.16
(7*) Majalah Filipina ”Quarterly” September.1975.halaman.69
(8*) De Minahasa, N.Graafland.eerste deel. Batavia.1989.halaman.357
(9*) Buku Objek Wisata kabupaten Komering Ulu.Cetakan 1990.halaman.35
(10*) Toumbulusche Pantheon.DR.J.G.F.Riedel.Berlin.1894.halaman.7
(11*) De Watu Rerumeran ne Empung Dr.J.G.F.Riedel.1897.190
Kemudian ada dewa alat musik gong bernama KOLANTUNG (Antung = Gong besar) namanya tidak terdapat dalam daftar dewa-dewi tulisan DR.J.G.F.Riedel, kemungkinan masa hidupnya setelah abad ketujuh.


Narasumber : http://maengket.blogs.friendster.com/my_blog/2007/08/kolintang_histo.html

TARI MAENGKET PURBAKALA

TARIAN MAENGKET PURBA - SAMPAI ABAD 15

Tarian Maengket mengandung dua unsur yakni seni menyanyi dan seni menari, dengan demikian tarian ini belum akan ada apabila orang Minahasa purba belum dapat menyanyi dan menari.
Dari kumpulan analisa dewa-dewi yang sebenarnya adalah leluhur orang Minahasa jaman purba, yang dilakukan oleh pembantu pendeta Sonder J.Albt.t.Schwarz. dengan cara me-wawancarai dan berdialog dengan para pemimpin adat wilayah Tontemboan yang bergelar TONA'AS dan WALIAN di tahun 1900. Dapatlah diketahui pembagian fungsi dan peran para leluhur orang Minahasa purba dalam komunitas awal bermasyarakat, yang pemerintahannya di pegang oleh kaum wanita. Buku kumpulan ceritera mengenai leluhur orang Minahasa berjudul "Tontemboansche Teksten" dalam bahasa Tontemboan dan terjemahannya dalam bahasa Belanda terbit tahun 1907.

MANGORAI, Wanita  tua pemimpin maengket Katuanan    “Mengenai Dewa-Dewi, misalnya kisah “Raranian ni Karema” nyanyian,  Karema-To’ar dan Lumimuut.
( Meyer & Richter )
Kedua buku ini terpisah dan untuk dapat mengetahui hasil analisanya mengenai
ceritera leluhur orang Minahasa jaman purba yang telah menjadi dewa-dewi, Opo'-Opo' atau APO' dalam bahasa Minahasa Tontemboan. Maka kita harus dapat mengerti bahasa tontemboan dan bahasa Belanda, karena si penulis J.alb.T.Schwarz menguasai kedua bahasa itu secara aktif walaupun dia orang Jerman tapi lahir di Langouwan Minahasa.
TUHAN orang Minahasa punya banyak nama, demikian juga leluhur purba atau penduduk awal di tanah Minahasa.
TUHAN disebut :
- I Wa'ilan an dangka (si yang mulia diatas langit)
- Empung Wangko (Tuhan maha besar)
- Si Esa (dia yang satu)
- Si apo' nimema i tjita (si yang menciptakan kita manusia)
Dewi KAREMA disebut :
- Si mengesa-ngesa (yang hidup seorang diri, si janda)
- Si Wine'bet = yang ditarik kelangit (nabi perempuan)
- Sarawsanga repa
   (yang tingginya sama dengan tongkat pohon jelaga, atau Asa, panjang satu depa)
- De eerste mensch (bahasa Belanda) artinya ; Manusia pertama.
Dewi LUMIMU'UT disebut :
- Si Apo' minema in tana' (bahasa Tontemboan)
- De vrouw die het land heft bebouwd,
  de woonplaatsen harer kinderen vast te stellen (bahasa Belanda) artinya ;
Wanita(Ibu) yang membangun bumi untuk dapat didiami dan mengatur tempat
kediaman anak-anaknya.
(tontemboansche Teksten terjemahan bahasa Belanda 1907 halaman 373)
Dewi MARUYA disebut :
- Si Raraha (Dewi gadis) adik perempuan Dewi KAREMA
- Si rumeingdeng in tana' (yang menyanyikan bumi, dewi penyanyi)
- Sa rei'tja ni reingdeng I MATUYA, ya en tana' nimarai'tja (bahasa Tontemban)
- Met de Rumeingdeng artinya ; yang dimaksudkan dengan Rumeingdeng dalam tulisan ini adalah nyanyian "Reingdeng"
Dengan membandingkan indentitas fungsi antara dewi LUMIMU'UT dan dewi penyanyi MARUAYA, dapat kita analisa bahwa dewi LUMIMU'UT tidak dapat mengolah bumi bila tidak di ikuti lagu "Reingdeng" yang dinyanyikan oleh dewi MARUAYA. Kesimpulannya adalah bahw seni menyanyi sudah dikenal orang Minahasa sejak jaman TO'AR dan LUMIMU'UT setelah mengenal sistim bercocok tanam.
Dewi RUMINTUWU' (Tuwu' = daun woka muda).
- "Lintuwu" (daun woka muda) berfungsi sebagai alat "O'orai"dan tariannya disebut "Mangorai", karena terian memakai alat daun woka muda, maka si penari disebut RUMINTUMWU'.
Pada daftar anak-anak TOAR dan LUMIMU'UT (halaman. 404) ada dua dewi yakni MARUAYA dan RUMINTUWU', karena sebutan Dewi penyanyi pertama adalah adik perempuandewi KAREMA. Kemudian jabatan dewi penyanyi lalu berpindah digunakan sebagai nama gelar anak perempuan LUMIMUU'UT, tapi dewi penari pertama RUMINTUWU baru mulai ada setelah TOAR dan LUMIMU'UT.
Dalam bentuk selisih digambarkan sebagai berikut :
(1) LAREMA (2) MUARAYA (3) LUMIMU'UT bersuami (4) TOAR, dua orang anak perempuan perkawinan TOAR dan LUMIMU'UT bernama MARUAYA (dewi penyanyi) dan RUMINTUWU (dewi penari).
Dengan demikian dapat kita ambil kesimpulan bahwa seni menyanyi yang mula-mula berfungsi dalam upacara agama asli dan upacara adat jaman purba setelah mengenal bercocok tanam. Karena agama asli Minahasa jaman purba dipimpin oleh kaum wanita jaman "Matriargaat",maka tarian kaum pria Minahasa tidak di masukkan sebagai bagian upacara adat. Pada jaman periode berburu dan mengumpulkan makanan, sebelum hidup menetap dan bercocok tanam misalnya tarian berburu binatang dan tarian perang. Tapi menyanyi dan menari sebagai sebuah karya seni dengan berbagai ketentuan dan aturan-aturan, sudah ada sejak jaman TOAR-LUMIMU'UT, bahwa menyanyi harus dengan suara "Lengdeng" Reingdeng (nyaring) danmenari harus memegang daun woka (Livistonia Rotundifolia).
Tarian MAENGKET tentu baru lahir beberapa generasi setelah jaman TOAR - LUMIMU'UT sebagai upacara terimakasih kepada LUMIMU'UT sebagai dewi Bumi dan TOAR sebagai dewa Matahari, dalam bentuk tarian kesuburan sebelum orang Minahasa mengenal tanaman padi. Nama tarian itu antara lain Maengket TUMUMBAL (mengolah tanah dan menanam biji-bijian), Maengket SUMEPO atau RUMAMBUS tarian memetik sayuran, Maengket MARAMBA setelah periode hidup menetap, membangun negeri dan membangun rumah. Maengket LALAYA'AN tarian muda-mudia pada upacara bulan purnama "Mahatembulelenen".
Peter Bellwood (Sulawesi Islan Crossroads of Indonesia, 1990 halaman. 24) bahwa penduduk negeri PASO (selatan danau Tondano) sudah hidup menetap sejak 3.000. tahun lalu demikian juga di Tonsawang. Tanaman padi mulai ada tahun 500 masehi, muncul pertama di kepulauan Sangihe, berarti padi pertama muncul dari Utara Minahasa, kemungkinan dari Philipina melalui pulau Sangihe. Penulis J.G.F.Riedel menganalisa dalam bukunya "rurumeran ne Empung" bahwa mahadew MUTU-MUTU hidup abad ke tujuh, dia bernama KUMOKOMBA dan istrinya bernama RINUNTUNAN. Memberi patokan pada kita bahwa fungsi padi pada abad ke tujuh di Minahasa belum penting sebagai bahan komoditi utama, tidak ada beras masih ada makanan umbi-umbian. Tapi pada periode ini sudah ada dwi penanam padi misalnya ; REWUMBENE, RAMPAWENE, SE'E WENE, UNTAIBENE, KEMBU'AN WENE. Abad ke sembilan ada Dewa bernama ARUR KRITO beristri LINTJANBENE (dikelilingi padi) dan dewa ARUR KRITO itu bergelar MUNTU - UNTU (Maha Dewa).
Arti LINTJANBENE (Lingkanbene) tidak ada sebagai Dewi penanam padi, tetapi Dewi penguasa tanaman padi, yang mengatur export beras keluar Minahasa misalnya dikirim ke Ternate. Abad 13 dewi LINGTJANBENE hidup di Tonsea, suaminya bernama RORINGTUDUS bergelar MUNTU - UNTU, abad 15 Dewi LINGKANBENE hidup di Wenang (sekarang Manado) suaminya bernama LOLONG LASUT juga bergelar MUNTU-UNTU, tempat penimbunan padi abad 15 di Wenang bernama "Tokambene"(toka = bukit ; wenw = padi) Dewi LINGKANBENE dan suaminya MUNTU-UNTU abad 15 ini, yang di kisahkan dalam syair lagu Maengket "Owey Kamberu"sekarang ini ……..MUNTU - UNTU tare Walian ko, nimasarani mo, milek se pangoreian mene'sel o wusang.
Artinya :
MUNTU - UNTU engkau pemimpin adat dan agama asli, setelah di babtis Kristen Katolik (oleh Spanyol) engkau menyesal juga melihat tarian"Mangorai"
Dengan demikian dapat dipastikan bahwa jenis Maengket OWEY KAMBERU baru muncul di Minahasa abad ke sembilan, setelah fungsi padi dalam hal ini Beras dijadikan sebagai alat politik ekonomi para kepala-kepala Paksa'an Minahasa dimana Kepala walak sebagai MUNTU - UNTU dan istrinya berfungsi sebagai LINGKAN WENE.
WALIAN IN UMA (wanita)    
Yang memimpin Tarian Maengket
“Mamowey Kamberu”, “Rumambak “
dan “Lalayaan”                 
( DR. A.B Meyer 1889 )
Syair Maengket dengan jelas menerangkan, siapa MUNTU - UNTU abad 15, yakni MUNTU - UNTU yang di baptis masuk Kristen, dan kepala walak orang Minahasa pertama dibabtis Kristen adalah kepala walak negeri Wenang. Ada raja Manado(pulau Manadotua) TULULIO yang sebelumnya telah dibabtis Pater Portugis, tapi raja Manado di pulau "Manaro&quo (manadotua) bukan kepala walak Minahasa dan tidak berkuasa atas daratan Minahasa. Adalagi kepala walak di wilayah kota Manado sekarang ini yakni ayah LOLONG LASUT bernama RURU ARES sebagai kepala walak negeri Ares Tikala, tapi tidak masuk Kristen.
Peranan priduksi beras Minahasa baru mulai tercatat setelah munculnya bangsa barat Portugis di Ternate tahun 1511 dan Spanyol 1521, penduduk pulau Ternate dan penghuni Benteng Portugis - Spanyol di Ternate makan nasi, tapi di pulau Ternate tidak tumbuh tanaman padi. Tahun 1609 V.O.C Belanda sudah datang membeli beras ke pelabuhan Wenang Manado, kemudian peperangan yang terjadi di Minahasa antara Spanyol dengan V.O.C. Belanda, antara spanyol dengan orang Minahasa tahun 1644, antara orang Minahasa dengan Hindia Belanda tahun 1808, semuanya disebabkan oleh produksi beras Minahasa.
Peranan LINGKAN WENE ini yang tercermin dalam syair lagu Maengket"Owey Kamberu" yakni LINGKAN WENE yang hidup abad kesembilan di Tontemboan, LINGKAN WENE yang hidup abad 13 di Tonsea, dan LINGKAN WENE yang hidup abad 15 di Tombulu. Produksi padi yang melimpah seperti air sungai, menaikkan eksport beras yang memberi kemajuan dalam perekonomian masyarakat, LINGKAN WENE abad 15 sampai berlayar menemui Gubernur Spanyol di Ternate. Tapi karena meninggalkan MUNTU UNTU suaminya di Wenang (Manado) maka ceriteranya berkepanjangan sampai terjadi perang orang Tombulu mengusir orang Spanyol tahun 1643 akibatnya 10 Agustus 1644 seluruh orang Minahasa memerangi Spanyol supaya meninggalkan Minahasa.
Ceriteranya produksi beras dan politik perdagangan beras yang melakukan hati dari Dewi LINGKAN WENE ini, yang dijadikan kata semboiyan dengan lagu …………………..OWEY SIKAMBERU Eeee.
Bukan saja proses kerja, menanam, mencangkul, memelihara, memetik,mengumpulkan dalam lubung padi, menumbuknya menjadi beras, yang melelahkan. Tapi juga usaha keras dewi padi LINGKAN WENE untuk menaikkan produksi beras, menaikkan tingkat ekonomi masyarakat dan keluarga, sering berakibat hal yang mengecewakan. Menyusahkan hati, melelahkan pikiran, karena kekayaan tidaklah segalanya bila dewi padi (Lingkan wene) sampai harus bertengkar bahkan bererai dengan suaminya Maha Dewa MUNTU - UNTU.
Sebuah syair Maengket "Owey Kamberu" periode sebelum tahun 1900 (buku : De Minahasa-N.Graafland. 1898. halaman.292) sebagai berikut ………..Lingkambene, temboanu si mahatepu wana laser Temboanu si mahatepu wana lesar, sa sia kana'uanupe' Oweeii………
Terjemahan : Lingkanwene, lihatlah si yang muncul di halaman, lihatlah lihatlah si yang muncul di halaman, apabila engkau masih mengenal-nya ….Oweeiii…..
TONA’AS IN UMA atau
“Tanaas Pertanian, memegang
tombak pendek disebut
“ Tinelungan”
Syair ini mengisahkan bahwa dewi padi Lingkanwene abad 15, tidak mau mengenal suaminya yang bergelar maha dewa MUNTU - UNTU. Padahal perekonomian minahasa abad 15-16 mengalami kemajuan, Mulai ada sapi dan kuda di Minahasa,mulai menggunakan Kadera (korsi), meja, senapan(muskat), busana kemeja, cermin, sisir, kain sutra India dan kain sutra Cina, porselein Cin dinasti Ming yang Indah, gerobak pedati,topi kuningan dari Portugis dan Spanyol, Lantaka (mariam), sepatu dan sebagainya.
Semuanya melakukan hati dan pikiran suami istri dewi padi LINGKAN WENE dan maha dewa MUNTU - UNTU …..Owey Kamberu……….. Ada satu baris sastra mengenai dewi padi LINGKAN WENE yang mendapat perluasan pengertian kata petunjuk, contoh ENDO artinya hari, SI ENDO artinya MATAHARI sebagai berikut :
Esa uman giyo si Lingkanwene
Waya'an si pelengan … kumamnberu, kamberu
Apa bedanya dengan kalimat :
Esa uman giyo ni Lingkanwene
Syair dari buku "A'asaren wo raranian ne Touw un Bulu" tulis J.G.F.Riedel  tahun 1869, nyanyian nomor 88 ESA UMAN GIYO SI LINGKAN WENE ingin menjelaskan bahwa SI LINGKAN WENE yang hidup abad 15 (istri Lolong  Lasut), yang hidup abad 13 (istri Roring Tudus) yang hidup abad 9 (istri Arur  Krito) punya kebebasanuntuk menikah lagi "Waya'an si Pelengan" agar tetap    berkuasa mengendalikan produksi beras.
Dengan demikian harus mengorbankan  kebahadiaan perkawinannya agar tetap mengendalikan produksi beras di seluruh  Minahasa. Kisah hidup LINGKAN WENE abad 13 dan abad 9 pasti sama tragisnya dengan kisah LINGKAN WENE abad 15. anak perempuan dari TORINDATU menikah pertama dengan saudagar besar AWONDTU, menikah kedua dengan    penguasa Wenang LOLONG LASUT yang bergelar MUNTU - UNTU, lalu menjadi istri Gubernur Spanyol di Ternate ANTONIUS GALVANO, kemudian  MUNTU - UNTU (Lolong Lasut) berlayar ke Ternate untuk dibaptis menjadi JESO KRISTO terlihat pada syair Mengket Tonsea sebagai berikut :
Muntu untu tare Wadianko, simengkot lako Simengkottarelako ko Minaseranimo
Artinya : Muntu untuk engkau kepala agama asli, engkau berlayar engkau sudah berlayar pergi masuk Kristen.
Setelah bercerai dengan Gubernur spanyol, LINGKAN WENE kembali ke Wenang Manado, mengangkat anak lelakinya dengan Gubernur Spanyol bernama MAINALO menjadi raja Minahasa, yang tidak di setujui orang Minahasa hingga timbul perang mengusir orang Spanyol dari Minahasa tanggal 10 Agustus 1644, maka berakhirlah pemberian gelar LINGKAN WENE dan MUNTU - UNTU pada sistim pemerintahan adat Minahasa……Kumamberu, Kamberu Owey….

TARI KABASARAN

Tari Kabasaran

Menari dengan pakaian serba merah, mata melotot, wajah garang, diiringi tambur sambil membawa pedang dan tombak tajam, membuat tarian kabasaran amat berbeda dengan tarian lainnya di Indonesia yang umumnya mengumbar senyum dengan gerakan yang lemah gemulai.
Tarian ini merupakan tarian keprajuritan tradisional Minahasa, yang diangkat dari kata; Wasal, yang berarti ayam jantan yang dipotong jenggernya agar supaya sang ayam menjadi lebih garang dalam bertarung.
Tarian ini diiringi oleh suara tambur dan / atau gong kecil. Alat musik pukul seperti Gong, Tambur atau Kolintang disebut “Pa ‘ Wasalen” dan para penarinya disebut Kawasalan, yang berarti menari dengan meniru gerakan dua ayam jantan yang sedang bertarung.
Kata Kawasalan ini kemudian berkembang menjadi Kabasaran yang merupakan gabungan dua kata “Kawasal ni Sarian” “Kawasal” berarti menemani dan mengikuti gerak tari, sedangkan “Sarian” adalah pemimpin perang yang memimpin tari keprajuritan tradisional Minahasa. Perkembangan bahasa melayu Manado kemudian mengubah huruf “W” menjadi “B” sehingga kata itu berubah menjadi Kabasaran, yang sebenarnya tidak memiliki keterkaitan apa-apa dengan kata “besar” dalam bahasa Indonesia, namun akhirnya menjadi tarian penjemput bagi para Pembesar-pembesar.
Pada jaman dahulu para penari Kabasaran, hanya menjadi penari pada upacara-upacara adat. Namun, dalam kehidupan sehari-harinya mereka adalah petani. Apabila Minahasa berada dalam keadaan perang, maka para penari kabasaran menjadi Waranei (prajurit perang). Bentuk dasar dari tarian ini adalah sembilan jurus pedang (santi) atau sembilan jurus tombak (wengkouw) dengan langkah kuda-kuda 4/4 yang terdiri dari dua langkah ke kiri, dan dua langkah ke kanan.
Tiap penari kabasaran memiliki satu senjata tajam yang merupakan warisan dari leluhurnya yang terdahulu, karena penari kabasaran adalah penari yang turun temurun. Tarian ini umumnya terdiri dari tiga babak (sebenarnya ada lebih dari tiga, hanya saja, sekarang ini sudah sangat jarang dilakukan). Babak – babak tersebut terdiri dari :
  1. Cakalele, yang berasal dari kata “saka” yang artinya berlaga, dan “lele” artinya berkejaran melompat – lompat. Babak ini dulunya ditarikan ketika para prajurit akan pergi berperang atau sekembalinya dari perang. Atau, babak ini menunjukkan keganasan berperang pada tamu agung, untuk memberikan rasa aman pada tamu agung yang datang berkunjung bahwa setan-pun takut mengganggu tamu agung dari pengawalan penari Kabasaran.
  2. Babak kedua ini disebut Kumoyak, yang berasal dari kata “koyak” artinya, mengayunkan senjata tajam pedang atau tombak turun naik, maju mundur untuk menenteramkan diri dari rasa amarah ketika berperang. Kata “koyak” sendiri, bisa berarti membujuk roh dari pihak musuh atau lawan yang telah dibunuh dalam peperangan.
  3. Lalaya’an. Pada bagian ini para penari menari bebas riang gembira melepaskan diri dari rasa berang seperti menari “Lionda” dengan tangan dipinggang dan tarian riang gembira lainnya. Keseluruhan tarian ini berdasarkan aba-aba atau komando pemimpin tari yang disebut “Tumu-tuzuk” (Tombulu) atau “Sarian” (Tonsea). Aba-aba diberikan dalam bahasa sub–etnik tombulu, Tonsea, Tondano, Totemboan, Ratahan, Tombatu dan Bantik. Pada tarian ini, seluruh penari harus berekspresi Garang tanpa boleh tersenyum, kecuali pada babak lalayaan, dimana para penari diperbolehkan mengumbar senyum riang.
Busana yang digunakan dalam tarian ini terbuat dari kain tenun Minahasa asli dan kain “Patola”, yaitu kain tenun merah dari Tombulu dan tidak terdapat di wilayah lainnya di Minahasa, seperti tertulis dalam buku Alfoersche Legenden yang di tulis oleh PN. Wilken tahun 1830, dimana kabasaran Minahasa telah memakai pakaian dasar celana dan kemeja merah, kemudian dililit ikatan kain tenun. Dalam hal ini tiap sub-etnis Minahasa punya cara khusus untuk mengikatkan kain tenun. Khusus Kabasaran dari Remboken dan Pareipei, mereka lebih menyukai busana perang dan bukannya busana upacara adat, yakni dengan memakai lumut-lumut pohon sebagai penyamaran berperang.
Sangat disayangkan bahwa sejak tahun 1950-an, kain tenun asli mulai menghilang sehingga kabasaran Minahasa akhirnya memakai kain tenun Kalimantan dan kain Timor karena bentuk, warna dan motifnya mirip kain tenun Minahasa seperti : Kokerah, Tinonton, Pasolongan, Bentenen. Topi Kabasaran asli terbuat dari kain ikat kepala yag diberi hiasan bulu ayam jantan, bulu burung Taong dan burung Cendrawasih. Ada juga hiasan tangkai bunga kano-kano atau tiwoho. Hiasan ornamen lainnya yang digunakan adalah “lei-lei” atau kalung-kalung leher, “wongkur” penutup betis kaki, “rerenge’en” atau giring-giring lonceng (bel yang terbuat dari kuningan).
Pada jaman penjajahan Belanda tempo dulu , ada peraturan daerah mengenai Kabasaran yang termuat dalam Staatsblad Nomor 104 B, tahun 1859 yang menetapkan bahwa
  1. Upacara kematian para pemimpin negeri (Hukum Basar, Hukum Kadua, Hukum Tua) dan tokoh masyarakat, mendapat pengawalan Kabasaran. Juga pada perkawinan keluarga pemimpin negeri.
  2. Pesta adat, upacara adat penjemputan tamu agung pejabat tinggi Belanda Residen, kontrolir oleh Kabasaran.
  3. Kabasaran bertugas sebagai “Opas” (Polisi desa).
  4. Seorang Kabasaran berdinas menjaga pos jaga untuk keamanan wilayah setahun 24 hari.
Kabasaran yang telah ditetapkan sebagai polisi desa dalam Staatsblad tersebut diatas, akhirnya dengan terpaksa oleh pihak belanda harus ditiadakan pada tahun 1901 karena saat itu ada 28 orang tawanan yang melarikan diri dari penjara Manado. Untuk menangkap kembali seluruh tawanan yang melarikan diri tersebut, pihak Belanda memerintahkan polisi desa, dalam hal ini Kabasaran, untuk menangkap para tawanan tersebut. Namun malang nasibnya para tawanan tersebut, karena mereka tidak ditangkap hidup-hidup melainkan semuanya tewas dicincang oleh Kabasaran. Para Kabasaran pada saat itu berada dalam organisasi desa dipimpin Hukum Tua. Tiap negeri atau kampung memiliki sepuluh orang Kabasaran salah satunya adalah pemimpin dari regu tersebut yang disebut “Pa’impulu’an ne Kabasaran”. Dengan status sebagai pegawai desa, mereka mendapat tunjangan berupa beras, gula putih, dan kain.
Sungguh mengerikan para Kabasaran pada waktu itu, karena meski hanya digaji dengan beras, gula putih, dan kain, mereka sanggup membantai 28 orang yang seluruhnya tewas dengan luka-luka yang mengerikan.
 
Oleh :
Jessy Wenas

TONAAS ABAD 18

T O N A ' A S   A B A D   1 8


              Tahun 1645 kepala-kepala walak Minahasa, Umbo (Tonsea), Lonta’an (Kakaskasen), Lumi (Tomohon), Taulu (Wenang), Kalangi (Ares), Posuma (Tombariri), Sawij (Jurubahasa), memakai perahu raja Siauw untuk berlayar ke Ternate. Mereka ingin menjalin kerjasama dengan V.O.C Belanda. Orang–orang Minahasa ini jelas bukan golongan Walian mereka adalah kepala-kepala Walak dan Kepala Walak Minahasa adalah dari golongan Tona'as.

               Perjanjian persahabatan Minahasa dengan Belanda terjadi tahun 1679, ketika itu Minahasa diwakili Supit, Lontoh, dan Paat. Perjanjian persahabatan itu kemudian mengalami beberapa kali perubahan yang akhirnya menempatkan Minahasa sebagai penakluk Belanda. Antara tahun 1700 dan 1800, Belanda sudah berperan sebagai “Tuan Besar” di Minahasa. Mereka mengangkat seorang raja Minahasa dengan jabatan Komandan Kapiten Urbanus Puluwang. selanjutnya dia disebut “Bapa Orang Minahasa”. Dia kemudian mengatur perdagangan beras serta pajak dan memecat Kepala walak antara lain Loho (Tomohon ) Agus Karinda (Negeri Baru). Dia juga menyewa serdadu Kora-Kora Ternate untuk membakar Negeri Atep Kapataran di wilayah pemimpin Tondano, Gerrit Wuisang.

               Pada tahun 1801, ada kapal perang yang menembaki benteng Belanda di Manado. Setelah diselidiki ternyata kapal perang tersebut milik Inggris. Mengetahui ada konflik antara belanda dan Inggris maka para Walak Minahasa meminta bantuan Inggris untuk mengusir Belanda. Dalam upaya mengusir Belanda, Gerrit Wuisang membeli senapan, mesiu, dan meriam dari Inggris. Memang orang Tondano sejak tahun 1760 sudah tidak mau lagi hadir dalam pertemuan-pertemuan dengan Belanda di Manado dan sejak residen Dur, orang Tondano paling keras melawan Belanda juga tidak mengindahkan aturan-aturan mengenai pajak, wajib militer, dan sistim perdagangan beras yang dikembangkan pihak Belanda.

               Ketika Residen Dur digantikan Residen Prediger, maka orang Tondano mulai menyiapkan diri untuk berperang melawan belanda. Dipimpin Tewu (Touliang) dan Ma’alengen (Toulimambot), orang Tondano merasa yakin bahwa pemukiman mereka diatas air di muara tepi danau sulit diserang Belanda, tidak seperti pemukiman walak-walak Minahasa lainnya.

              Pada tahun 1806, benteng Moraya di Minawanua mulai diperkuat dengan pertahanan parit di darat dan pasukan dengan kekuatan 2000 perahu di tepi danau. Pemimpin Tondano mengikat perjanjian dengan walak-walak Tombulu, Tonsea, Tontemboan, dan Pasan-Ratahan untuk mengirimkan pasukan dan bahan makanan. Pemimpin walak Minahasa lainnya yang membantu antara lain : Andries Lintong (Likupang), Umboh atau Ombuk dan Rondonuwu (Kalabat) Manopo dan Sambuaga (Tomohon), Gerrit Opatia (Bantik), Poluwakan (Tanawangko), Tuyu (Kawangkoan), Walewangko (Sonder), Keincem (Kiawa), Talumepa (Rumoong), Manampiring (Tombasian), Kalito (Manado), Kalalo (Kakas), Mokolengsang (Ratahan) sementara pemimpin pasukan Tondano pada awal peperangan adalah Kilapog, Sarapung dan Korengkeng.

               Bulan Mei 1808, Minahasa sudah melarang Belanda pergi ke pegunungan, tapi pada tangal 6 Oktober, Belanda membawa pasukan besar yang terdiri dari serdadu dari Gorontalo, Sangihe, Tidore, Ternate, Jawa, dan Ambon mendirikan tenda-tenda di Tataaran. Tanggal 23 Oktober, Belanda mulai menembaki benteng Moraya Tondano dengan meriam 6 pond. Namun, tidak mereka sangka bahwa akan ada perlawanan dari pihak Tondano. Bahkan, tenda-tenda Belanda di Tataaran mendapat kejutan setelah pasukan berani mati pimpinan Rumapar, Walalangi, Walintukan dan Rumambi menyerang di tengah malam. Pada bulan November, pimpinan utama Belanda Prediger terluka kepalanya akibat terkena tembakan di Tataaran. Dia kemudian digantikan wakilnya Letnan J. Herder. Perang kemudian bertambah panas yang kemudian ditandai dengan perang darat dan perahu. Pada tahun 1809, pemimpin tondano mendatangkan perahu Kora-Kora dengan memotong logistik bahan makanan dari Kakas ke Tondano. Pada tangal 14 April, pasukan Jacob Korompis menyerang tenda-tenda Belanda di Koya. Serangan yang dilakukan malam hari itu, Jacob berhasil merebut amunisi dan senjata milik Belanda.

               Tanggal 2 Juni 1809, Belanda melakukan perjanjian dengan kepala-kepala walak Minahsa lainnya.
Kemudian pasukan–pasukan yang bukan orang Tondano mulai meninggalkan Benteng Moraya karena bahan makanan mulai berkurang. Dan yang tertinggal adalah pasukan dari Tomohon dan Kalabat.
Penulis L. Mangindaan dalam bukunya “Oud Tondano” terbitan tahun 1871 pada halaman 368-369 menulis bahwa setelah Benteng Moraya jadi sunyi, sudah tidak terdengar lagi teriakan-teriakan perang dan bunyi–bunyi letusan senjata.
Lalu pada suatu malam, Belanda menyerang Benteng itu dan membakar rata dengan tanah. Serangan itu dilakukan pada malam hari tanggal 4 Agustus dan pagi 5 Agustus 1809.
Dalam penyerangn tersebut, Belanda kemudian membumi hanguskan Benteng Morya Tondano. Pada bulan September 1909 (bundel Ternate nomor 1160), Belanda baru mengetahui bahwa pimpinan utama dari perang di Tondano adalah Tewu (Touliang), Lontho (Kamasi-Tomohon), Mamahit (Remboken), Matulandi (Telap) dan Theodorus Lumingkewas (Touliang). Mereka adalah kepala-kepala walak yang disebut “Mayoor” atau Tona’as perang.

Oleh :

Jessy Wenas

WALIAN ABAD 15

WALIAN ABAD KE-15

Perdagangan rempah-rempah di Ternate - Tidore oleh pedagang-pedagang berbagai bangsa mengakibatkan pelabuhan-pelabuhan di Minahasa menjadi ramai. Bahkan Kaisar Cina-pun, mengirimkan banyak ekspedisi kapal layar Jung ke Malaka, Jawa dan Maluku pada tahun 1292 – 1293. Ekspedisi Cina tersebut dilakukan utuk berperang atau untuk berdagang. Ketika melakukan perdagangan, kapal-kapal layar jung inilah yang membawa keramik porselin ke daerah minahasa. Mereka membawa keramik tersebut untuk ditukarkan dengan beras. Beras yang diperoleh dari Minahasa kemudian dibawa ke Ternate untuk ditukarkan dengan rempah-rempah. Hal itu dilakukan karena raja-raja di Ternate gemar makan nasi, sementara di Ternate sendiri tidak mepunyai tanaman padi. Jalur perdagangan cina ini kemudian diikuti oleh pedagang dari Arab. Salah seorang pedagang asal Arab, Sharif Makdon, pada tahun 1380 melakukan perdagangan dari Ternate, Wenang lalu ke Philippina Selatan. Selain melakukan perdagangan pedagang dari Arab ini melakukan penyebaran agama Islam pada suku Manarouw Mangindanouw. Kemudian jalur ini diikuti para pelaut asal Portugis diantaranya Pedro Alfonso.

Pada tahun 1511, Pedro Alfonso menemukan Ternate, setelah itu armada dagang asal Portugis secara resmi mengirimkan Antonio de Abreu ke Maluku tahun 1512. Pada tahun itu juga Portugis mengirimkan tiga kapal layar ke Manarow (Pulau Manado Tua). Dari pulau tersebut, pedagang asal Portugis melakukan pelayaran dengan menggunakan perahu ke Wenang untuk berunding dengan kepala Walak Ruru Ares. Maksud kedatangan Portugis ke Wenang adalah untuk menyewa sebidang tanah. Tapi keinginan Portugis untuk menyewa tanah di Wenang pupus karena Walak Ruru Ares menolak untuk memberikan tempat bagi mereka. Setelah gagal di Wenang, Protugis kemudian melakukan perjalanan ke Uwuran (Amurang) dan kemudian mendirikan benteng Amurang pada tahun 1512. Ketika tiba didaerah Minahasa (Amurang), Portugis yang saat itu membawa pedagang dan rohaniwan lebih banyak daripada serdadu, belum berani masuk hingga pedalaman. Mereka hanya mampu mendirikan benteng-benteng batu di tepi pantai dan pulau di sekitar Minahasa seperti di Siauw tahun 1518.Walaupun para wanita yang mendiami daerah di tepi pantai sudah banyak yang bersuamikan orang Portugis, tapi masyarakat di daerah pegunungan baru menikah dengan orang-orang kulit putih asal Spanyol pada tahun 1523. Salah satu contoh adalah salah seorang wanita asal Kakaskasen Tomohon bernama Lingkan Wene yang menikah dengan Kapiten spanyol bernama Juan de Avedo. Anak lelaki dari pasangan suami istri ini kemudian diberi nama Mainalo Wula’an karena mempunyai mata bulat bening (Indo Spayol). Perkawinan wanita Minahasa dan pria asal Spanyol ini ternyata tidak disukai Portugis, karena Portugis berasumsi bahwa Spanyol akan menguasai daerah Minahasa. Apalagi ketika itu Spanyol telah mendirikan benteng di Wenang dengan cara menipu Kepala Walak Lolong Lasut menggunakan kulit sapi dari Benggala India yang dibawa Portugis ke Minahasa. Tanah seluas kulit sapi yang dimaksud spanyol adalah tanah seluas tali yang dibuat dari kulit sapi itu. Spanyol kemudian menggunakan orang Mongondouw untuk menduduki benteng Portugis di Amurang pada tahun 1550-an sehinggga akhirnya Spanyol dapat menduduki Minahasa.

Anak Lingkan Wene yang bernama Mainalo Wula’an kemudian dinikahkan dengan gadis asal Tanawangko. Hasil perkawinan mereka membuahkan anak laki-laki yang kemudian dinamakan Mainalo Sarani. Kelak menanjak dewasa, Mainalo Sarani diberi gelar Muntu-Untu sementara istrinya di beri gelar Lingkan Wene. Pada tahun 1630, Muntu-Untu dan Lingkan Wene dibabtis menjadi Kristen oleh Missionaris asal Spanyol dari segi Ordo Fransiscan. Kemudian mereka memperoleh status sebagai Raja Manado.

Bila peran para Walian di Minahasa sebelum abad 15 hanya diketahui dari legenda dan adat kebiasaan, maka pada abad 16 fungsi mereka dapat ditemukan dari surat-surat para Missionaris Portugis dan Spanyol. Seperti dalam surat Pater Blas Palomino tanggal 8 Juni 1619. Sebelum dia terbunuh di Minahasa pada tahun 1622, dia menulis mengenai sikap permusuhan para Walian pemimpin agama suku terhadap para Missionaris asal Spanyol. Dia juga menulis tentang perbuatan Walian Kali yang menghasut kepala Negeri Kali bernama Wongkar untuk menolak dan melarang para Missionaris Spanyol untuk masuk ke pedalaman Minahasa. Dua puluh lima tahun kemudian, surat Pater Juan Yranzo yag ditulis di Manila tahun 1645 menyebutkan tentang pengusiran Spanyol dari tanah Minahasa pada tanggal 10 Agustus 1644. Pengusiran tersebut mengakibatkan terbunuhnya Pater Lorenzo Garalda. Pada hari pertama, 10.000 serdadu Minahasa menangkap 22 orang Spanyol dan membunuh 19 orang. Para Walian Minahasa menghasut masyarakat untuk membunuh semua Missionaris Spanyol. Sayangnya nama-nama Walian Minahasa tersebut tidak disebutkan karena rencana mereka bocor hingga para Missionaris Spanyol sempat mengungsi ke tepi pantai dan berperahu ke Siauw. Dari surat – surat para Missionaris Spanyol jelas terlihat peran Walian golongan agama suku yag jadi motor penggerak peparangan tahun 1644. Tapi dengan terbunuhnya Missionaris Spanyol justru menjadi pupuk penyubur perkembangan Agama Katolik di Minahasa.
 
Oleh: Jessy Wenas

TARI MAENGKET

SEKILAS MENGENAI TARIAN MAENGKET

Kata MAENGKET terdiri dari kata dasar ENGKET yang artinya mengangkat tumit kaki turun naik, dan awalan MA yang merubah kata dasar menjadi kata kerja menari-turun naik. Dengan demikian sebutan klasifikasi jenis MAENGKET :
Maengket "Owey Kamberu" dapat dikatakan menari "Owey Kamberu", Maengket "Marambak" dapat dikatakan menari "Marambak", Maengket "Lalayaan" dapat dikatakan menari "Lalayaan".
Fungsi MAENGKET dalam upacara adat jaman tempo dulu, adalah sebagai bahagian dari serangkaian upacara petik padi MANEMPO' (Tontemboan), MANGUPU' (Tombulu, Tonsea), MASAMBO (Tondano). Yang terdiri dari Tarian untuk mengundang roh leluhur Dewa-Dewi dan nyanyian memuji SI EMPUNG (Tuhan) disebut SUMEMPUNG dan minta berkat perlindungan pada Dewa-Dewi yang disebut MENGALEI. Oleh karena itu tarian MAENGKET sebenarnya bukan murni tarian, tapi perpaduan dua cabang kesenian yakni seni tari dan seni menyanyi. Ada dua tarian Minahasa yang sudah punah, dimana si penari tidak menyanyi yaitu MANGOLONG tarian upacara kedukaan dan MAHAWALIAN tarian para pemimpin adat dan agama asli TONA'AS dan WALIAN. Dengan demikian tarian MAENGKET termasuk cabang kesenian tradisional Minahasa, yang memiliki "Faktor kesulitan" yang cukup tinggi dalam pelatihannya dan penampilannya, karena harus menghayati gerak tari dan intonasi suara.
Yang dimaksud dengan rangkaian upacara petik padi adalah musim pesta adat yang berlangsung selama sembilan hari, dengan tarian "Maowey Kamberu", tarian "Lalayaan" pada upacara bulan purnama MAHATAMBULELENEN (Tombulu), MASISERAP (Tontemboan). Dan biasanya di ikuti dengan upacara SUMOLO (solo = lampu) pada pemasangan lampu rumah baru untuk pertama kalinya, tarian pada acara ini disebut "Marambak" (rambak = Banting kaki) untuk secara simbolisasi menguji kekuatan rumah. Rumah adat Minahasa jaman tempo dulu disebut "Wale wangko" (rumah besar) yang bentuknya memanjang dihuni oleh tujuh sampai sembilan keluarga. Apabila penduduk sebuah "Wanua" atau "Ro'ong" yang dalam bahasa melayu Manado disebut "Negeri" sudah cukup banyak, maka dibangunlah satu rumah baru untuk keluarga-keluarga baru yang ingin memisahkan diri dari orang tua mereka. Peresmiannya dilakukan setelah panen raya padi yakni setelah bulan purnama raya, urutan-urutan upacara adat telah di tentukan sebelumnya oleh pemimpin negeri, merangkap pemimpin adapt TONA'AS WANGKO. Setelah bintang tiga "Kateluan" terlihat, maka si Tonaas mulai membuat simpul pada seutas tali disebut "Mamules", tiap hari membuat satu simpul pada tali selama sembilan hari kemudian istirahat satu hari.
Kemudian dilanjutkan lagi tujuh hari berturut-turut lalu istirahat satu hari, selanjutnya lima hari lagi lalu istirahat, dan tiga hari lagi, pada hari berikutnya adalah bulan purnama raya. 9 + 1 + 7 + 1 + 5 + 1 + 3 + 1 = hari ke-28 bulan purnama raya, tujuh hari sebelum bulan purnama dilakukan tarian "Maengket Owey Kamberu" dihalaman batu TUMOTOWA, pada hari ke-28 secara resmi panen raya dimulai, malam harinya adalah bulan purnama raya dilakukan "Maengket Lalaya'an, tujuh hari setelah bulan purnama dilakukan peresmian rumah baru upacara "Sumolo". Karena TONA'AS WANGKO juga memegang jabatan sebagai TONA'AS SAKA (Panglima perang) pemimpin para "Waranei", maka ketika melihat bintang tiga "Kateluan" muncul, maka dia menyuruh anak buahnya "Mamu'is" pergi menangkap tawanan bila ada upacara naik rumah baru. Karena sebelum pemasangan atap rumah baru ada upacara "Pangari'ian" (ari'i = tiang) raja, kurban kepala manusia ditanamkan dibawah tiang raja, inilah yang dimaksud syair "Mangido-ngido-do" pada Maengket Marambak Tonsea.
Pemimpin tarian MAENGKET adalah kaum wanita sebagai "Walian in uma" pemimpin upacara kesuburan pertanian dan kesuburan keturunan, dibantu oleh "Walian Im penguma'an" lelaki dewasa. Pemimpin golongan WALIAN atau golongan agama asli (agama suku) disebut "Walian Mangorai" seorang wanita tua, yang hanya berfungsi sebagai pengawas dan penasehat dalam pelaksanaan upacara-upacara kesuburan. Untuk memulai tarian maka si pemimpin tarian MAENGKET menari melambai-lambaikan saputangan mengundang dewi bumi (Lumimu'ut), dan setelah kesurupan Dewi Bumi, barulah tarian dimulai, oleh karena itu semua penari MAENGKET harus memakai saputangan. Agar supaya para penari tidak kemasukan (kesurupan) roh jahat (Tjasuruan Lewo') ada pembantu TONA'AS WANGKO menemani "Walian in uma" yang disebut "Tona'as in uma" pria dewasa yang memegang tombak symbol Dewa Matahari TO'AR (To'or = Tu'ur = tiang tegak = Tombak). Oleh karena itu di halaman batu "Tumotowak" (Tontembuan) "Panimbe" (Tondano), "Pa'lalesan" (Tombulu), "Pasela" (Tonsea) ditancapkan tiang-tiang bambu berhias disebut "Tino'or" (Tontemboan), "Toto'or" (Tombulu), sewaktu dilakukan tarian Maengket "Owey Kamberu". OWEY termasuk kata keluhan karena lelah fisik dan lelah pikiran yang sama artinya dengan Bahasa Tondano AMBO, rasa lelah yang berada diluar kekuasaan manusia, hingga keluhan membawa rasa nikmat, menikmati rasa lelah karena ada hasil yang menyenangkan dibalik kelelahan itu, misalnya lelah menanam padi akan menghasilkan kesenangan waktu menuai padi.
Karena Minahasa terdiri dari kesatuan beberapa sub ethnic seperti, Tontemboan, Tombulu, Tonsea, Tondano, Tonsawang, Ratahan Ponosakan dan Bantik. Maka syair lagu nyanyian MAENGKET juga memakai dialek bahasa-bahasa sub ethnic Minahasa tersebut, menyebabkan ada beberapa sebutan istilah yang berbeda misalnya MA'OWEY (Tombulu, Tonsea) di Tontemboan disebut MAWINSON, MAKAMBERU di Tombulu disebut MAWAREI DI Amurang-Tontemboan. Tapi semua subethnik Minahasa mengakui bahwa Dewi padi itu bernama LINGKANWENE (liklik = keliling, Wene = padi) yang dikelilingi padi, penguasa produksi padi, suaminya adalah pemimpin semua Dewa-dewi, Maha dewa MUNTU-UNTU. Ada tiga orang leluhur Minahasa yang bergelar MUNTU-UNTU dan istrinya bernama LINGKANWENE, yang pertama kemungkinan hidup abad ke-sembilan, yang kedua hidup abad ke-12, yang ketiga hidup abad 15. MUNTU-UNTU yang terakhir inilah yang di kisahkan dalam syair "maowey kamberu" telah dibabtis oleh Pater Spanyol masuk Kristen-katolik. Umumnya ceritera dewa-dewi padi, MUNTU-UNTU, TAMATULAR, SAMBALEAN, PARENKUAN, TUMIDENG, PANAMBUNAN (dewa padi lading), PALENEWEN (dewa padi sawah) dalam lagu "Maowey Kamberu" berkisah sedih yang melelahkan hati. Tapi produksi beras di Minahasa sangat terkenal di kawasan Indonesia Timur, sehingga mengundang bangsa barat Spanyol menanam padi sawah di Motoling Minahasa Selatan dan baru berakhir tahun 1644 selama satu abad. Yang bergelar MUNTU-UNTU yang dibabtis pater Spanyol sudah pasti LOLONG LASUT karena dotu inilah yang memberi ijin Spanyol mendirikan kantor dagang "Loji"di "Menango labo" (pelabuhan Wenang) sekarang kota Manado.
Tangga nada lagu MAENGKET dalam upacara adat disebut Penthatonis Owey (lima not) ; la (6), sol (5), mi (3), re (2), do (1), dan Penthatonis ROYOR (lima not) ; si (7), la (6), sol (5), mi (3), re (2).
Setelah tahun 1900 tarian MAENGKET tidak lagi menjadi bahagian dari upacara adat, karena upacara-upacara adapt di Minahasa yang disebut "Posan" tidak lagi dilakukan orang Minahasa. Tarian MAENGKET kemudian menjadi salah satu cabang kesenian "Seni Pertunjukkan" terutama sekali pada acara "Kuda Baan" (Balapan kuda) di Sario-Manado, Walian-Tomohon, Kawangkoan Tonsea, Kawangkoan Tontemboan, Tasuka-Kakas, kelompok MAENGKET saling bertanding memperebutkan bendera merah putih. Tidak adalagi "Kesurupan" dalam menari MAENGKET semua patokan ke-indahan penampilan lomba ditentukan berdasarkan teori hukum-hukum seni musik dan seni tari dengan menggunakan dasar "Estetika" seni tradisi. Sekitar tahun 1950-an setelah Hindia Belanda angkat kaki dari Minahasa, lahirlah jenis MAENGKET "Imbasan" yang secara umum syair utamanya mengenai perjuangan kemerdekaan dan falsafah Negara, yang mengandung muatan misi agama Kristen disebut "Tari Jajar". Aturan dan ketentuan tarian MAENGKET menjadi longgar dan kehilangan pegangan yang disebut "Pakem" dalam ilmu teori tarian jawa. Oleh karena itu banyak pakar MAENGKET di Minahasa kemudian meneliti lagi aturan-aturan Maengket jaman sebelum tahun 1900, yang mungkin dapat di sesuaikan dengan MAENGKET jaman sekarang.
Yang tidak dapat dirubah lagi adalah bahwa tangga nada MAENGKET jaman sekarang adalah "Diatonis"; do (1), 2 (re), mi (3), fa (4), sol (5), la (6), si (7), 1, satu oktaf. Pemimpin tarian MAENGKET tidak dapat lagi dinamakan "Walian in Uma" (wanita) atau "Walian im Penguma'an" (pria) tapi disebut KAPEL.
Tapi pengaruh fungsi MAENGKET sebagai upacara adat jaman tempo dulu, belum sama sekali menghilang di Minahasa hingga sekarang ini. Yakni muatan Supranatural yang dalam bahasa Belanda disebut "Mokus Pokus" yang prakteknya masih terasa terutama dalam acara pertandingan MAENGKET memperebutkan kejuaraan.
Tapi masalah diluar teori ini, hanya sekedar untuk diketahui dan memang tidak dapat dibahas sebagai pengetahuan ilmu seni, karena terdapat secara umum dalam dunia kesenian tradisional diseluruh nusantara. Ciri has suara penyanyi MAENGKET dengan nada keras dan melengking yang disebut "Suara lima" tidak termasuk Supranatural, walaupun jaman tempo dulu penyanyi MAENGKET mengarahkan suaranya ke gunung-gunung tinggi tempat bersemayam Dewa-dewi. Anggap saja hadirin dan para penonton itu Dewa-dewi, karena nama-nama para leluhur dewa-dewi itu masih digunakan orang Minahasa hingga sekarang ini, seperti ; TULAR (Tamatular), TILAAR (Tumilaar), MUNTU-UNTU, MAMOTO', PARENGKUAN, PANAMBUNAN, PALENEWEN, dan sebagainya.
Sumber : www.maengket.com

TONAAS DAN WALIAN

Tona'as Dan Walian Abad Ke-7

By: Jessy Wenas
Pemimpin Minahasa jaman tempo dulu terdiri dari dua golongan yakni Walian dan Tona’as. Walian mempunyai asal kata “Wali” yang artinya mengantar jalan bersama dan memberi perlindungan. Golongan ini mengatur upacara agama asli Minahasa hingga disebut golongan Pendeta. Mereka ahli membaca tanta-tanda alam dan benda langit, menghitung posisi bulan dan matahari dengan patokan gunung, mengamati munculnya bintang-bintang tertentu seperti “Kateluan” (bintang tiga), “Tetepi” (Meteor) dan sebagainya untuk menentukan musim menanam. Menghafal urutan silsilah sampai puluhan generasi lalu, menghafal ceritera-ceritera dari leluhur-leluhur Minahasa yang terkenal dimasa lalu. Ahli kerajinan membuat pelaratan rumah tangga seperti menenun kain, mengayam tikar, keranjang, sendok kayu, gayung air.
Golongan kedua adalah golongan Tona’as yang mempunyai kata asal “Ta’as”. Kata ini diambil dari nama pohon kayu yang besar dan tumbuh lurus keatas dimana segala sesuatu yang berhubungan dengan kayu-kayuan seperti hutan, rumah, senjata tombak, pedang dan panah, perahu. Selain itu golongan Tona’as ini juga menentukan di wilayah mana rumah-rumah itu dibangun untuk membentuk sebuah Wanua (Negeri) dan mereka juga yang menjaga keamanan negeri maupun urusan berperang.
Sebelum abad ke-7, masyarakat Minahasa berbentuk Matriargat (hukum ke-ibuan). Bentuk ini digambarkan bahwa golongan Walian wanita yang berkuasa untuk menjalankan pemerintahan “Makarua Siouw” (9x2) sama dengan Dewan 18 orang leluhur dari tiga Pakasa’an (Kesatuan Walak-Walak Purba).
Enam leluhur dari Tongkimbut (Tontemboan sekarang) adalah Ramubene, suaminya Mandei, Riwuatan Tinontong (penenun), suaminya Makaliwe berdiam di wilayah yang sekarang Mongondouw, Pinu’puran, suaminya Mangalu’un (Kalu’un sama dengan sembilan gadis penari), Rukul suaminya bernama Suawa berdiam di wilayah yang sekarang Gorontalo, Lawi Wene suaminya Manambe’an (dewa angin barat) Sambe’ang artinya larangan (posan). Maka Roya (penyanyi Mareindeng) suaminya bernama Manawa’ang.
Sedangkan enam leluhur yang berasal dari Tombulu adalah : Katiwi dengan suaminya Rumengan (gunung Mahawu), Katiambilingan dengan suaminya Pinontoan (Gunung Lokon), Winene’an dengan suaminya Manarangsang (Gunung Wawo), Taretinimbang dengan suaminya Makawalang (gunung Masarang), Wowriei dengan suaminya Tingkulengdengan (dewa pembuat rumah, dewa musik kolintang kayu) Pahizangen dengan suaminya Kumiwel ahli penyakit dari Sarangsong.
Sementara itu enam leluhur yang berasal dari Tontewo (wilayah timur Minahasa) terdiri dari Mangatupat dengan suaminya Manalea (dewa angin timur), Poriwuan bersuami Soputan (gunung Soputan), Mongindouan dengan suaminya Winawatan di wilayah Paniki, Inawatan dengan suaminya Kuambong (dewa anwan rendah atau kabut), Manambeka (sambeka sama dengan kayu bakar di pantai) dewa angin utara, istrinya tidak diketahui namanya kemudian istri Lolombulan. Pemimpin panglima perang pada jaman pemerintahan golongan Walian adalah anak lelaki Katiwei (istri Rumengan) bernama Totokai yang menikah dengan Warangkiran puteri dari Ambilingan (istri Pinontoan).
Pada abad ke-7 telah terjadi perubahan pemerintahan. Pada waktu itu di Minahasa – yang sebelumnya dipegang golongan Walian wanita - beralih ke pemerintahan golongan Tona’as Pria. Mulai dari sini masyarakat Matriargat Minahasa yang tadinya menurut hukum ke-Ibuan berubah menjadi masyarakat Patriargat (hukum ke-Bapaan)., Menjalankan pemerintahan “Makatelu pitu (3x7=21)" atau Dewan 21 orang leluhur pria.
Wakil-wakil dari tiga Pakasa’an Toungkimbut, Toumbulu, Tountowo, mereka adalah ; Kumokomba yang dilantik menjadi Muntu-Untu sebagai pemimpin oleh ketua dewan tua-tua “Potuosan” bernama Kopero dari Tumaratas. Mainalo dari Tounsea sebagai wakil, Siouw Kurur asal Pinaras sebagai penghubung dibantu Rumimbu’uk (Kema) dan Tumewang (Tondano) Marinoya kepala Walian, Mio-Ioh kepala pengadilan dibantu Tamatular (Tomohon) dan Tumilaar (Tounsea), Mamarimbing ahli meramal mendengar bunyi burung, Rumoyong Porong panglima angkatan laut di pulau Lembe, Pangerapan di Pulisan pelayaran perahu, Ponto Mandolang di Pulisan pengurus pelabuhan-pelabuhan, Sumendap di Pulisan pelayaran perahu, Roring Sepang di awaon Tompaso, pengurus upacara-upacara di batu Pinawetengan, Makara’u (Pinamorongan), Pana’aran (Tanawangko), Talumangkun (Kalabat), Makarawung (Amurang), REPI (Lahendong), Pangembatan (Lahendong).
Dalam buku “Toumbulusche Pantheon” tulisan J.G.F. Riedel tahun 1894 telah dikemukakan tentang sistem dewa-dewa Toumbulu yang ternyata mempunya sistem pemerintahan dewa-dewa seluruh Minahasa dengan jabatan yang ditangani leluhur tersebut. Pemerintahan golongan Tona’as abad ke-tujuh sudah punya satu pimpinan dengan gelar Muntu-Untu yang dijabat secara bergantian oleh ketiga sub-etnis utama Minahasa. Misalnya leluhur Ponto Mandolang mengatur pelabuhan Amurang, Wenang (Manado) Kema dan Bentenan dengan berkedudukan di Tanjung Pulisan. Tiap sub-etnis Minahasa mempunya panglima perangnya sendiri-sendiri tapi panglima perang tertinggi adalah raja karena dilantik dan dapat diganti oleh dewan tua-tua yang disebut “Potuosan”.
Dari nama-nama leluhur wanita Minahasa abad ke-7 seperti Riwuatan asal kata Riwu atau Hiwu artinya alat menenun, Poriwuan asal kata Riwu alat menenun, Raumbene asal kata Wene’ artinya padi, menunjukkan Minahasa abad ke-7 telah mengenal padi dan membuat kain tenun.